بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Kitab Shahih Bukhari ada satu riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu yang menjelaskan tentang firman Allah ta’ala : “Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata: “janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, Dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr.”(Qur’an Surat Nuh ayat 23).
Beliau (Ibnu Abbas) mengatakan: “Ini adalah nama orang-orang shaleh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meninggal dunia, syetan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana, disitu pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut disembah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, No. 4920)
Kandungan bab ini:
- Mengetahui bahwa awal munculnya kemusyrikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang shaleh
- Mengetahui sebab-sebab diterimanya bid’ah, padahal syari’at dan fitrah manusia menolaknya
- Faktor yang menyebabkan terjadinya hal di atas adalah tercampur-aduknya kebenaran dengan kebatilan; Adapun yang pertama ialah: rasa cinta kepada orang-orang shaleh. Sedang yang kedua ialah: tindakan yang dilakukan oleh orang-orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud (dan niatnya baik-red) untuk suatu Kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu (dan justru menganggap hal demikian adalah ibadah,red)
- Syetan mengetahui dampak yang diakibatkan oleh bid’ah, walaupun maksud pelakunya baik
- Larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya (yaitu: untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan).
Sumber: Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah


