Surat Al-Qalam ayat 13 hingga 16 menyimpan pelajaran mendalam tentang karakter seorang manusia yang terjebak dalam keburukan perangai. Secara khusus, ayat-ayat ini mengisahkan tentang Al-Walid bin al-Mughirah, seorang tokoh Quraisy yang memiliki sifat-sifat tercela yang diabadikan oleh Allah ﷻ sebagai peringatan bagi kita semua.
Melalui kajian Kitab Tafsir Juz 29 karya Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M.A., kita akan membedah sifat-sifat buruk tersebut agar kita dapat menjauhinya dan menghiasi diri dengan akhlak islami yang mulia.
Sifat Buruk Al-Walid bin al-Mughirah
Dalam ayat-ayat sebelumnya, Allah ﷻ telah menyebutkan sifat penyuka celaan dan orang yang berjalan ke sana kemari untuk menebar namimah (adu domba). Memasuki ayat ke-13, Allah ﷻ menambahkan sifat lainnya:
عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ
“Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” (QS. Al-Qalam: 13)
Sifat pertama adalah Utull, yang bermakna kaku, kasar, dan keras perangainya. Sifat ini menjauhkan seseorang dari hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Padahal, seorang muslim semestinya memiliki perangai yang lembut. Dalam urusan dunia dan hak pribadi, seorang muslim hendaknya banyak mengalah. Sangat tercela jika seseorang hanya karena kesalahan kecil dalam urusan dunia langsung marah dan membentak, karena itu bukan sifat seorang muslim yang sejati.
Sifat kedua adalah Zanim, yaitu orang yang paling terkenal dalam keburukan-keburukannya. Al-Walid bin al-Mughirah adalah sosok yang identik dengan kejahatan di tengah kaumnya.
Akar Kesombongan: Harta dan Anak
Mengapa seseorang bisa jatuh ke dalam perangai yang begitu buruk? Allah ﷻ menjelaskan sebabnya pada ayat ke-14:
أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ
“Karena dia mempunyai harta dan anak-anak.” (QS. Al-Qalam: 14)
Al-Walid merasa besar karena memiliki kekayaan melimpah dan anak laki-laki yang banyak. Pada masa itu, memiliki banyak istri dan anak adalah simbol kekuatan. Namun, tanpa iman, limpahan karunia ini justru membawanya pada kesombongan.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ mengenai pengaruh kepemilikan terhadap karakter seseorang: “Sifat bangga dan sombong ada pada pemilik kuda dan unta (yang mahal)… sedangkan ketenangan (sakinah) ada pada pemilik domba.” (HR. Bukhari).
Kekayaan yang besar jika tidak dikelola dengan ketakwaan cenderung melahirkan sifat keras hati dan merasa tinggi di hadapan orang lain.
Menentang Ayat-Ayat Allah
Puncak dari keburukan Al-Walid adalah penolakannya terhadap kebenaran. Ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an, ia justru mencela dan menghinanya.
إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ “Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang dahulu’.” (QS. Al-Qalam: 15).
Ia senantiasa mencari celah untuk menjatuhkan kehormatan Al-Qur’an, meskipun ia tahu dalam hatinya bahwa itu adalah kebenaran.
Balasan yang Menghinakan
Allah ﷻ menyiapkan balasan yang setimpal atas kesombongan dan perangai buruknya. Wajah, yang merupakan bagian tubuh manusia yang paling mulia, akan ditandai dengan keburukan.
سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ “Kelak akan Kami beri tanda dia di atas belalai(nya).” (QS. Al-Qalam: 16).
Wajahnya akan ditandai dengan warna hitam yang menghinakan di hari kiamat. Hal ini merupakan bentuk perendahan yang nyata karena hidungnya (belalainya) diberi tanda layaknya binatang.
Sebagai perenungan bagi kita, wajah adalah tempat kita mengenal satu sama lain. Dalam Islam, wajah diletakkan di tempat serendah-rendahnya hanya saat bersujud kepada Allah ﷻ. Sujud adalah bentuk penghambaan tertinggi, di mana kita meletakkan kemuliaan diri di atas tanah demi tunduk kepada Sang Pencipta. Barangsiapa yang enggan sujud dan sombong di dunia, maka Allah ﷻ akan menghinakan wajahnya di akhirat kelak.
Wallahu a’lam bishawab
Faedah Ilmu dari Ustadz Muhammad Romelan, Lc., M.Ag
Kajian Kitab: Tafsir Juz 29 Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M.A.
Ditulis di Masjid MABA
Senin, 27 April 2026

