Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memilih kita di antara sekian banyak manusia untuk dapat duduk mempelajari firman-Nya dan hadis-hadis Nabi-Nya ﷺ. Setiap kali memulai majelis, hendaknya kita memuji Allah dalam rangka mengharap pahala ibadah dan memohon perlindungan dari keburukan yang dapat menimpa iman kita.
Selanjutnya, marilah kita senantiasa memperbarui tobat. Seringkali terdapat penghalang yang membuat kita sulit mendapatkan taufik dan hidayah. Dengan bertobat, penghalang hidayah itu akan terangkat, sehingga kelak kita dapat bertemu wajah Allah ﷻ tanpa hisab dan tanpa azab.
Mendekati bulan Muharram, kita sering mendapati bulan ini diisi dengan berbagai kemungkaran dan bid’ah (perkara baru dalam agama). Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah membawakan bab dalam Shahih-nya: Al-‘Ilmu Qablal Qaul Wal ‘Amal (Ilmu sebelum berkata dan beramal). Oleh karena itu, sebelum memasuki bulan Muharram, kita wajib mengilmui amalan apa saja yang sahih di bulan tersebut agar terhindar dari kesia-siaan.
Merenungi Silih Bergantinya Waktu dan Bulan Haram
Pergantian siang, malam, dan bulan adalah tanda kebesaran Allah bagi mereka yang mau berpikir dan bersyukur. Ulama menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah ketaatan. Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Qur’an surat al-Furqan ayat 62).
Dalam setahun, Allah ﷻ menetapkan dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram). Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (Qur’an surat at-Taubah ayat 36).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memperingatkan agar kita jangan menganiaya diri (berbuat dosa) di bulan-bulan tersebut. Allah ﷻ mengagungkan kemuliaan bulan haram; dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar ancamannya, sebaliknya ketaatan di dalamnya diganjar dengan pahala yang jauh lebih besar. Kematian bisa datang kapan saja—orang yang duduk belum sempat berdiri, yang berjalan belum sempat tiba di rumah, ajal sudah menjemput. Maka, bersegeralah melakukan amal saleh dan bertobat, khususnya di bulan-bulan haram ini.
Keutamaan Bulan Muharram
Terdapat beberapa keutamaan khusus bulan Muharram yang harus dipahami oleh setiap muslim:
- Bagian dari Bulan Haram: Sebagaimana dijelaskan di atas, Muharram termasuk satu dari empat bulan yang disucikan.
- Syahrullah (Bulan Allah): Muharram disandarkan langsung kepada nama Allah (Bulan Allah). Dalam kaidah bahasa Arab, penyandaran ini disebut Idhafatut Tasyrif, yakni penyandaran untuk memuliakan, sama halnya dengan istilah Baitullah (Rumah Allah). Seorang hamba sejati mencintai dan mengagungkan apa yang dicintai dan diagungkan oleh Allah ﷻ.
- Bulan Haram yang Paling Mulia: Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bulan apa yang paling afdal, beliau menjawab bahwa bulan yang paling mulia adalah “Bulan Allah yang kalian sebut sebagai bulan Muharram.”
- Haram Memulai Peperangan: Karena kesuciannya, pada bulan ini diharamkan untuk memulai peperangan, sebagaimana isyarat dalam Qur’an surat at-Taubah ayat 5.
Anjuran Puasa di Bulan Muharram
Disunnahkan secara umum untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.
Namun, apakah disyariatkan berpuasa sebulan penuh? Pendapat yang kuat adalah tidak. Hal ini disandarkan pada penuturan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh sama sekali kecuali pada bulan Ramadhan.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
Secara khusus, sangat disunnahkan berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Puasa ‘Asyura). Rasulullah ﷺ bersabda, “Puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia menggugurkan dosa setahun sebelumnya.” (Yang dimaksud di sini adalah dosa-dosa kecil).
Berikut adalah klasifikasi pilihan puasa di bulan Muharram dari yang paling utama:
- Mayoritas bulan Muharram: Berpuasa sebanyak mungkin (misal 25 hari), yang di dalamnya sudah mencakup puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.
- Puasa Tasu’a dan ‘Asyura: Berpuasa hanya pada tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi Yahudi.
- Puasa ‘Asyura saja: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.
Catatan Penting: Banyak di antara kita yang memiliki standar ganda. Untuk urusan dunia, kita mengejar yang maksimal. Namun saat berhadapan dengan ketaatan, sering muncul ucapan melemahkan: “Kan nggak wajib, ini cuma sunnah.” Para ulama Salaf, ketika mengetahui suatu amalan adalah sunnah, mereka berlomba-lomba mengerjakannya. Ironisnya, di zaman ini, mengetahui sesuatu itu sunnah justru dijadikan alasan untuk meninggalkannya.
Amalan yang Tidak Disyariatkan (Bid’ah) di Bulan Muharram Banyak kebid’ahan terjadi karena ketidaktahuan umat terhadap syariat. Hukum asal ibadah adalah tauqifiyah (haram dilakukan sampai ada dalil yang memerintahkannya). Allah ﷻ menegaskan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qur’an surat al-Isra ayat 36).
Berikut adalah amalan-amalan keliru yang sering terjadi di bulan Muharram:
- Puasa Akhir dan Awal Tahun: Berpuasa di akhir Dzulhijjah dan awal Muharram dengan niat khusus “tutup tahun dan awal tahun” adalah amalan tanpa dalil.
- Dzikir Berjamaah Khusus Awal Tahun: Mengadakan halaqah dzikir khusus untuk menyambut malam satu Suro atau awal tahun Hijriyah.
- Menjadikannya Bulan Berkabung: Keyakinan kaum Syi’ah yang menyiksa diri dan meratapi wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu (cucu Nabi). Kematian beliau memang tragedi menyedihkan bagi kaum muslimin, namun meratapi kesedihan seperti itu bertentangan dengan syariat yang telah disempurnakan.
- Kepercayaan Khurafat (Bulan Bala’): Sebagian masyarakat (khususnya kejawen) meyakini Muharram (Suro) sebagai bulan sial/bala. Akibatnya, muncul ritual penolak bala seperti semedi, selamatan kelahiran anak kembar, tidak berani menggelar hajatan/pernikahan, mencuci pusaka keramat, hingga memberikan sesajen di pohon besar.
Sikap Mukmin Menyikapi Pergantian Tahun Inti dari pergantian waktu bukanlah semata-mata merayakan kapan tahun itu datang atau berlalu. Namun, pertanyaannya adalah: apa yang sudah kita siapkan, dan amalan apa yang mengisi bulan-bulan yang telah berlalu tersebut?
Menjelang akhir tahun, sikap yang benar bukanlah berkumpul mengadakan ritual perayaan, melainkan memperbanyak dua hal ini secara mandiri:
- Tafakur dan Hisab: Menghitung-hitung dan mengevaluasi amal diri sendiri. Sejauh mana ketaatan yang telah kita kerjakan, dan maksiat apa saja yang harus segera ditobati.
- Isti’anah (Memohon Pertolongan): Mempersiapkan diri dan merundingkan bekal ketaatan ke depan. Memohon tolong kepada Allah (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) agar kita senantiasa dimampukan untuk beribadah dan dipertemukan dengan bulan-bulan mulia untuk beramal saleh.
Sampai kapan kita harus beribadah dan berdoa? Allah ﷻ menjawab:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Qur’an surat al-Hijr ayat 99).
Demikianlah sikap seorang muslim yang benar dalam menyambut akhir tahun dan awal bulan Hijriyah (Muharram). Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua.
Disusun dari catatan Kajian Albis oleh Ustadz Said Abu Ukasyah hafizhahullah. Ditulis pada 25 Dzulhijjah 1439 H / 5 September 2018.

