Ketakwaan adalah bekal terbaik bagi seorang hamba yang berjalan menuju Allah ﷻ. Pokok ketakwaan adalah adanya tameng atau pembatas yang menjaga seorang hamba dari kemurkaan dan azab Allah ﷻ.
Hubungan kita dengan Allah ﷻ dibangun di atas ketakwaan, hubungan dengan sesama manusia dibangun di atas akhlak yang mulia, dan hubungan dengan diri sendiri dibangun dengan membersihkan hati dari dosa dan maksiat. Jika terjatuh dalam dosa, seorang hamba harus segera beristighfar, bertobat, dan memperbanyak amal saleh karena kebaikan akan menghapuskan keburukan.
Hal ini sejalan dengan wasiat Rasulullah ﷺ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Berdasarkan pembahasan dari kitab Zaadu At Tarbiyah karya Syaikh Shalih Al-Munajjid, terdapat beberapa sifat dan karakter orang-orang yang bertakwa yang patut kita teladani.
1. Bersungguh-sungguh untuk Jujur
Karakter pertama dari orang yang bertakwa adalah selalu bersungguh-sungguh untuk jujur (shidiq), baik di dalam ucapan maupun perbuatan. Mereka jujur kepada Allah ﷻ dan jujur kepada sesama manusia.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 33: وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)
2. Mengagungkan Syiar-syiar Allah
Orang yang bertakwa memiliki karakter mengagungkan syiar-syiar Allah ﷻ, yakni syariat-syariat-Nya yang tampak. Ini merupakan bagian dari ketakwaan hati. Contohnya adalah bagaimana mereka menjaga rukun Islam seperti salat lima waktu berjamaah di masjid, merapatkan saf, serta menunaikan zakat dan sedekah.
Mereka mengeluarkan zakat dengan ikhlas karena Allah ﷻ, menyadari bahwa itu adalah syariat yang tidak memberatkan. Zakat yang diwajibkan bagi yang mampu dan telah mencapai haul hanyalah 2,5% setahun sekali, jumlah yang sangat kecil kecuali jika setan membisikkan rasa waswas seolah-olah itu adalah jumlah yang besar.
Keteladanan dalam bersedekah ditunjukkan oleh para sahabat menjelang Perang Tabuk. Meski dalam kondisi musim panas yang berat dan keadaan yang sulit, sahabat Umar bin Khattab menyedekahkan separuh hartanya, sementara Abu Bakar as-Siddiq menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah ﷻ.
3. Berlaku Adil Kepada Siapa Pun
Karakter orang bertakwa selanjutnya adalah selalu bersikap adil dan berhukum dengan adil. Kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh membuat seorang muslim berlaku zalim.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 8: …وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ… “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS. Al-Maidah: 8)
Sebuah kisah nyata terjadi pada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Saat beliau mengisi kajian, ada seorang pemeluk Syiah yang diam-diam hadir mendengarkan karena penasaran. Pada sesi tanya jawab, seorang guru (Ahlussunnah) bertanya kepada Syaikh: “Di kelas saya ada murid Ahlussunnah dan Syiah. Saat pemilihan murid terbaik untuk perwakilan sekolah, ternyata yang paling pintar adalah murid Syiah. Bolehkah saya memanipulasi dan tetap mengangkat murid Ahlussunnah?”.
Syaikh Bin Baz tegas menjawab tidak boleh, dan membawakan Surah Al-Maidah ayat 8. Syaikh menasihati sang guru agar bersikap adil, dan jika murid Ahlussunnah tertinggal, maka tugas gurulah untuk membimbingnya agar bisa bersaing, bukan dengan cara curang. Keadilan Syaikh Bin Baz kepada “musuh” ini membuat pemeluk Syiah tersebut takjub, hingga akhirnya ia mempelajari agama yang lurus ini dan mendapat hidayah memeluk akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
4. Mengikuti Jalannya Para Nabi (Ittiba’)
Orang yang bertakwa senantiasa mengikuti (ittiba’) jalannya para Nabi, orang-orang benar, dan orang-orang saleh di masa lalu yang kisahnya telah Allah ﷻ abadikan dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Kiat Meraih Ketakwaan
Menjaga ketakwaan di zaman ini tentu tidak mudah karena besarnya ujian. Terdapat beberapa jalan untuk membantu kita sampai pada derajat takwa:
- Berdoa meminta ketakwaan: Senantiasa memohon kepada Allah ﷻ dengan doa: اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا “Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku, dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya.”
- Memperhatikan kebersihan hati: Hati manusia diibaratkan putih, namun setiap dosa akan menorehkan bintik hitam. Istighfar dan tobat akan menghapus noda tersebut. Hati yang bersih akan lebih mudah diajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.
- Memperkuat ittiba’: Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
- Bersabar dan Muhasabah Diri: Melakukan introspeksi (muhasabah) atas kebaikan yang dilakukan dan keburukan yang terlewatkan.
- Menjaga Sifat Malu: Sifat malu yang benar adalah yang membawa pada kebaikan dan menahan dari keburukan, seperti malu jika tidak salat berjamaah di masjid.
- Makan dari Rezeki yang Halal: Memakan yang halal dan meninggalkan segala yang diharamkan Allah ﷻ.
Buah Ketakwaan: Rahmat di Hari Kiamat
Taat dan bertakwa mengumpulkan segala bentuk kebaikan. Sebagaimana wasiat Nabi ﷺ: “Hendaklah engkau selalu bertakwa kepada Allah, sesungguhnya takwa itu mengumpulkan semua kebaikan” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Buah terbesar dari ketakwaan adalah keselamatan dari api neraka dan masuk ke dalam surga Allah ﷻ. Hal ini tergambar dari hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (disahihkan oleh Al-Albani), bahwa ketika Allah ﷻ menciptakan alam semesta, Allah ﷻ juga menciptakan 100 rahmat (kasih sayang).
Allah ﷻ hanya menurunkan 1 rahmat ke dunia, yang dengan satu rahmat itulah seluruh makhluk (termasuk binatang buas) saling menyayangi. Sisa 99 rahmat-Nya Allah ﷻ simpan dan khususkan untuk disempurnakan bagi orang-orang yang bertakwa kelak di hari kiamat di dalam surga.
Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing kita untuk meniti jalan ketakwaan, menjaga kebersihan hati, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang dirahmati.
Wallahu a’lam bishawab
Faedah Ilmu Ustadz Muhammad Romelan, Lc., M.Ag
Ditulis di Masjid MABA
Ahad, 3 Mei 2026 / 15 Dzulqodah 1447

