Tafsir Surat Al Qalam; 17 “Kisah Ashabul Jannah dan Bahaya Melupakan Fakir Miskin”

Tafsir Surat Al Qalam; 17 “Kisah Ashabul Jannah dan Bahaya Melupakan Fakir Miskin”

Saudaraku,

Ketika Allah berikan harta, hakikatnya itu adalah titipan. Jadikanlah harta tersebut sebagai kendaraan kita menuju surga dengan menyisihkannya bagi mereka yang membutuhkan.

Permusuhan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah ﷺ sangatlah besar. Terkait hal ini, Allah ﷻ memberikan perumpamaan di dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surat Al-Qalam ayat ke-17, yang menceritakan tentang Ashabul Jannah (Para Pemilik Kebun). Kisah ini menjadi peringatan betapa mudahnya bagi Allah ﷻ untuk melenyapkan harta benda yang dimiliki hamba-Nya jika mereka enggan bersyukur.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ ﴿١٧﴾ وَلَا يَسْتَثْنُونَ ﴿١٨﴾ فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ ﴿١٩﴾

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu ditimpa malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.” (QS. Al-Qalam: 17-19)

Pelajaran dari Kisah Para Pemilik Kebun

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa Ashabul Jannah ini adalah anak keturunan dari sebuah keluarga di negeri Yaman. Orang tua mereka dahulu adalah orang yang saleh. Setiap kali panen tiba, sang ayah memiliki kebiasaan mulia, yaitu tidak pernah lupa menyisihkan sebagian hasil kebunnya untuk fakir miskin.

Namun, ketika sang ayah meninggal dunia, kebun tersebut diwariskan kepada anak-anaknya. Sayangnya, mereka memutus kebaikan orang tuanya. Mereka berniat memonopoli seluruh hasil panen dan enggan berbagi dengan orang-orang miskin. Di sore hari menjelang panen, mereka saling berbisik dan bersumpah, “Jangan sekali-kali pada hari ini ada orang miskin yang masuk ke kebun kalian!”.

Mereka merasa bahwa kebun dan isinya adalah mutlak milik mereka sendiri, dan ini adalah saatnya mereka bersenang-senang menikmati harta yang melimpah. Niat buruk untuk menghalangi hak orang miskin inilah yang akhirnya mendatangkan petaka.

Bencana di Malam Hari dan Penyesalan yang Terlambat

Ketika buah-buahan telah ranum dan siap untuk panen raya esok harinya, Allah ﷻ mendatangkan azab. Saat mereka sedang tertidur lelap di malam hari, kebun yang begitu subur itu hangus terbakar menjadi abu.

Allah ﷻ berfirman melukiskan kondisi kebun tersebut:

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ ﴿٢٠﴾

“Maka jadilah kebun itu hitam gelap seperti malam yang gulita.” (QS. Al-Qalam: 20)

Keesokan paginya, dengan penuh semangat mereka saling memanggil untuk segera berangkat memetik hasil kebun. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika melihat pemandangan di depan mata. Kebun yang mereka banggakan telah rata dengan tanah, hitam gelap bagai malam.

Awalnya mereka mengira salah jalan dan berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang tersesat (dari jalan yang benar).”. Namun, tak lama mereka sadar dan berkata, “Bahkan kita tidak memperoleh apa pun (terhalang dari panen).”.

Orang yang paling bijak di antara mereka pun mengingatkan, sebagaimana terekam dalam firman-Nya:

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ ﴿٢٨﴾ قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ ﴿٢٩﴾

“Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?’ Mereka mengucapkan: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Qalam: 28-29)

Mereka akhirnya saling mencela, menyadari bahwa mereka telah melampaui batas. Mereka bertaubat dan berharap Allah ﷻ memberikan ganti yang lebih baik, karena sesungguhnya hanya kepada Allah-lah semua akan kembali.

Hikmah Berbagi dan Hak Fakir Miskin

Kisah ini memberikan keteladanan yang tegas bahwa harta pada hakikatnya hanyalah titipan Allah ﷻ. Semuanya akan kembali kepada-Nya. Jika kita diberikan keluasan rezeki, selesaikanlah kewajiban-kewajiban harta terlebih dahulu, seperti menafkahi keluarga, membayar zakat mal jika sudah mencapai nisab, dan melunasi utang. Menunda pembayaran utang bagi orang yang mampu adalah sebuah kezaliman.

Setelah kewajiban selesai, jadikanlah sisa harta tersebut sebagai jalan kemuliaan. Berbagilah dengan fakir miskin, bersedekahlah, dan belanjakan di jalan Allah ﷻ. Jangan pernah meremehkan sedekah sekecil apa pun, karena nominal yang terlihat kecil bagi kita bisa jadi mendatangkan kebahagiaan luar biasa dan doa tulus dari mereka yang membutuhkan. Jadikan harta sebagai kendaraan yang memudahkan kita masuk ke dalam surga.

Selain itu, jagalah selalu niat di dalam hati. Jangan sampai ada niat buruk sekecil apa pun, karena Allah Maha Mengetahui. Sebagaimana kisah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang sempat bersumpah untuk memutus bantuan nafkah kepada kerabatnya akibat fitnah kepada putrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ langsung menegur niatan untuk memutus kebaikan tersebut, sehingga Abu Bakar segera membatalkan sumpahnya dan kembali menanggung kerabatnya.

Pentingnya Mengucapkan Insyaallah

Kata “yastathnun” dalam Surat Al-Qalam ayat 18 memiliki dua tafsiran dari para ulama: pertama, menyisihkan (untuk fakir miskin); dan kedua, mengecualikan dengan ucapan “Insyaallah”. Para pemilik kebun itu sangat yakin esok hari akan panen, namun mereka lupa melibatkan Allah dengan tidak mengucapkan Insyaallah.

Sebagai seorang muslim, seoptimis apa pun kita, kita harus senantiasa menyandarkan segala urusan kepada Allah ﷻ dan meminta pertolongan-Nya. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah (La haula wala quwwata illa billah).

Mari kita teladani para Nabi dan Rasul yang senantiasa mengucapkan Insyaallah dalam segala urusan mereka:

1. Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam Ketika Nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih putranya, Ismail menjawab dengan ketaatan:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾

“…Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. As-Saffat: 102)

2. Nabi Musa dan Syu’aib ‘alaihimassalam Ketika Nabi Syu’aib menawarkan putrinya untuk dinikahi dengan syarat bekerja selama 8 tahun, Nabi Musa menjawab:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿٢٧﴾

“…Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik (saleh).” (QS. Al-Qasas: 27)

3. Nabi Yusuf ‘alaihissalam Saat menyambut kedatangan keluarganya di Mesir, Nabi Yusuf berkata:

وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ ﴿٩٩﴾

“…dan dia berkata: ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.'” (QS. Yusuf: 99)

4. Rasulullah Muhammad ﷺ Bahkan Allah ﷻ sendiri mengajarkan Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan Insyaallah saat menjanjikan kemenangan masuk ke kota Makkah:

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ ﴿٢٧﴾

“…bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya…” (QS. Al-Fath: 27)

Semoga kita selalu menjaga niat baik, gemar berbagi kepada sesama, dan senantiasa mengucapkan Insyaallah serta Bismillah dalam setiap langkah dan urusan kita untuk meraih keberkahan dari Allah ﷻ.

Wallahu a’lam bishawab

Faedah Ilmu dari Ustadz Muhammad Romelan, Lc., M.Ag Kajian Kitab: Tafsir Surat Al Qalam

Ditulis di Masjid Abdurrahman bin Auf Senin, 04 Mei 2026

Simak kajian lengkap:

Tentang Kami

Website sebagianmalam.com adalah situs dakwah sunnah yang menyebarkan dakwah Islamiyah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Sahabat ridwanullah ‘alaihim jami’an. Moto sebagianmalam.com adalah “Beriman, Kemudian Istiqamahlah.”

Materi sebagianmalam.com merupakan faedah ilmu dari majelis-majelis ilmiyah as-Salafy al-Atsari di D.I Yogyakarta. Muatan sebagianmalam.com terdiri dari Aqidah, Manhaj, Tafsir, Tarbiyah, Sirah Nabawi, Fatwa dan Faedah, Fiqih serta Muammalah.

Selengkapnya