بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka mintalah rizki itu kepada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu sekalian dikembalikan.” (Qur’an surat Al Ankabut ayat 17 ).
Imam At-thabrani dengan menyebutkan sanadnya meriwayatkan ada pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mu’min, maka salah seorang di antara orang mu’min berkata: “marilah kita bersama-sama memohon perlindungan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini”, ketika itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Sesungguhnya aku tidak boleh dimintai perlindungan, hanya Allah sajalah yang boleh dimintai perlindungan”.
Kandungan bab ini:
- Istighatsah ialah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan tersebut, sedangkan berdo’a ialah permohonan secara umum baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
- Orang paling shalih sekalipun, jika melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia terjerumus dalam orang yang Dzalim (musyrik).
- Meminta perlindungan kepada selain Allah ta’ala tidak akan mendatangkan manfaat duniawi sama sekali, disamping ini adalah perbuatan kafir.
- Al Ankabut ayat 17 menerangkan, hanya Allah ta’ala yang berhak dengan ibadah dan syukur kita, dan hanya kepada Allah ta’ala semestinya hamba meminta rizki.
- Sesembahan selain Allah ta’ala tidak tahu dan tidak merasa ada orang yang tengah memohon kepadanya, dan sekali-kali mereka tidak akan dapat memberikan apapun yang diminta.
- Hadis diatas merupakan upaya dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menjaga adab kepada Allah ta’ala dalam rangka meluruskan tauhid, sekali-kali tidaklah memohon pertolongan kecuali hanya kepada Allah ta’ala bahkan kepada nabipun dilarang. Bagaimanalagi manusia di zaman ini yang meminta pertolongan kepada kuburan orang-orang shalih? Tentu lebih tidak beradab lagi.
Sumber: Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah




