Kami mendengar guru kami Ustadz Abu Usamah Susanto hafidzahullah ta’ala menceritakan nukilan dari Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, Ustadz memulai kisahnya.
Saya pernah mendapat sebuah nukilah dari Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad. Ketika itu beliau ditanya,
“Syaikh, bolehkah kita meninggalkan penulisan shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat duduk di majelis ilmu? Dalam rangka supaya tidak tertinggal mencatat faedah, nanti setelah kajian selesai baru kemudian ditulis (shalawat tersebut) sehingga dikosongkan dahulu untuk ditulis kemudian.”
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjawab, “Apakah menulis (shalawat) ini tidak termasuk faedah?”
Kita berpikir menulis shalawat akan menghabiskan waktu dan tidak sempat mencatat faedah ilmu. Syaikh menilai dari sisi yang lain, yakni belajar itu bukan hanya mendapat catatannya, akan tetapi juga mendapat pahala dari menulis shalawat. Malahan sebagian dari kita menulis shalawat disingkat-singkat. Oleh karena itu, kita berusahalah untuk menulis (shalawat) dengan bagus. (Maksudnya bagus adalah) yang lengkap begitu juga ketika mengucapkannya yang lengkap. Shalallahu ‘alahi wasallam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. [SELESAI]
Demikian saya nukil dari majelis ilmu Ustadz Abu Usamah Susanto,
Wallahu alam bishawab
Faedah Ilmu Ustadz Abu Usamah Susanto
Masjid al-Hasanah, Terban, Yogyakarta
Senin, 6 Rabi’ul Awwal 1441 / 3 November 2019


