Satu kesempatan, Imam Syafi’i hadir di majelis Imam Malik -semoga Allah memberikan rahmat pada keduanya-.
Saat itu, Imam Syafi’i tidak membawa pena. Seraya mendengarkan Imam Malik membacakan kitabnya, Imam Syafi’i memasukkan jarinya ke mulut dan melumuri dengan air liur kemudian menggunakannya mencatat di telapak tangan. Tatkala Imam Malik melihat itu, ini hal yang ganjil. Maka tatkala Imam Syafi’i diminta mengulangi penjelasan Imam Malik, sungguh Imam Syafii mampu mengulangi seluruhnya dengan hafalannya.
Lantas apakah bermanfaat menulis dengan air liur di telapak tangan? Jawabannya bermanfaat meskipun tidak membekas tulisan itu. Mengapa demikian?
Orang yang mencatat saat di majelis ilmu dengan pena maka ia sedang mengaktifkan seluruh indranya, baik tangan, pengelihatan, pendengaran. Bahkan otaknya memurajaah apa yang ia dengar dan menyimpulkan dalam tulisan seketika itu juga.
Maka benarlah jika mencatat ilmu adalah mengikat ilmu.
Maka, dari sini menghindari mencatat faedah ilmu dengan HP dan Leptop menggantinya dengan menulis dengan pena itu lebih baik, sebab HP dan leptop keduanya hanya tombol. Namun mencatat dengan pena akan benar-benar merasakan menulis huruf demi huruf اب ت ث atau a b c d. Menggunakan banyak panca indra saat mengumpulkan faedah ilmu akan memberi bekas pada ingatan. Meskipun membawa kitab, tetaplah mencatat apa yang disampaikan guru dalam majelis ilmu.
Wallahu alam bishawab
Faedah Ilmu Ustadz Firanda Andirja
Disusun dalam perjalanan dinas Kota Jogja ke Parangtritis
Kamis, 26 Shafar 1440 / 24 Oktober 2019


