Boleh Share, Tapi Teliti dulu!

Boleh Share, Tapi Teliti dulu!

Murajaah (penyunting) : Ustadz Rasyid Abu RasyidahJika ingin share artikel/video islami, Yuk! teliti :

  1. Menurut logika dan perasaan artikel/videonya bagus, mendukung pendapat yang kita miliki tapi ini bukan satu-satunya alasan untuk bolehnya share.
  2. Bolehnya share artikel sampai ada dalil yang jelas dan dijelaskan oleh penulis yang jelas-jelas kita tahu latarbelakangnya.

Ciri artikel yang baik, dalam artikel disebutkan Qur’an surat ayat sekian, Hadis riwayat ini nomor sekian. dishahihkan oleh Imam ini atau Syaikh ini.

Jangan sampai kita share tanpa mengenal penulisnya, share karena kita tahu betul siapa penulis/pengisi video.

Tanpa tahu sumbernya, boleh jadi mereka ahlul bid’ah, syiah, murjiah, mu’tazilah, khowarij dll yang menyimpang sehingga salah memahami ayat al-Qur’an.

وَلَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولࣰا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Qur’an surat al-Isra, ayat 36).

3. Jika tidak ada sumber dalil, tidak kenal penulisnya bahkan tidak ada sumber artikel, maka kita tawaquf yakni: diam tidak komentar, tidak share, tidak perlu mendakwahkan sampai ada sumber dan dalil yang jelas. Bahkan tidak boleh kita yakini meskipun cocok dengan pendapat pribadi. Bukankah kita masih penuntut ilmu? Kita bukan ahli hadis bukan pula ahli tafsir yang bisa menyimpulkan benar dan salah kecuali merujuk pada ulama yang terpercaya.

4. Mengapa perlu dalil? padahal secara logika artikelnya bagus?

Ali radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ

“Sekiranya agama ini menggunakan akal maka bagian bawah khuff lebih pantas diusap daripada bagian atas.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud No. 162)

Dalam Fiqih wudhu ada bab mengusap khuf/sepatu. Ketika kita menggunakan sepatu silakan wudhu tanpa melepasnya, wudhu seperti biasa dan cukup usap bagian atasnya. Bagi yang mukim hukum ini berlaku sehari semalam. Bagi yang safar, hukuk ini berlaku selama tiga hari.

Jika menggunakan akal, maka bagian bawah sepatu lebih pantas diusap daripada bagian atasnya, ‘kan yang kotor bawahnya bukan atasnya.

Kita tunduk pada dalil, sebab akal kita lemah dan dalil adalah wahyu.

5. Bagaimana jika dalilnya dhoif, namun bagus secara akal. Bolehkah di-share?

عليكم بسنتي وسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِييْنَ مِنْ بَعْدِي

Rasullullah shalallahu alaihi wassallam bersabda, “Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan juga sunnah khulafa arrasyidin (Sunnah Sahabat ridwanullah alaihim ajmain) sepeninggalku.” (Diriwayatkan oleh at Tirmidzi No. 2676)

Para ulama meneliti hadis shahih, hasan, dhoif, maudhu agar agama ini terjaga dari kerancuan.

Secara singkat hadis shahih ialah hadis yang validitasnya tinggi, hadis hasan adalah lebih rendah dari hadis shahih namum masih boleh sebagai rujukan. Adapun dhoif, ini lemah sebab periwayatnya ada yang terindikasi pendusta. Sedangkan maudhu adalah hadis palsu. Biasanya muncul dari syair-syair kemudian dianggap hadis.

Mana yang benar-benar agama, itulah yang terdapat dalam Hadis Shahih dan Hasan.

Contohnya tersebar di masyarakat, dengan hadis palsu menuntut ilmu sampai cina,


اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ

“Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China.” Ini adalah hadis palsu.(1)

Karena banyak orang menyampaikan hadis ini, sehingga dianggap hadis oleh orang awam. Padahal ini bukanlah hadis bahkan tidak boleh diyakini sebagai bagian dari agama. Justru maknanya janggal, mengapa mencari ilmu ke cina padahal sumber ilmu ada di Kota Nabi, Madinah mukaromah.

Maka kita cukupkan share hadis Shahih dan Hasan saja.

6. Silakan duduk di kursi neraka, kata Nabi shalallahu alaihi wassallam bagi yang share hadis palsu.

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (Diriwayatkan oleh Bukhari No. 1291 dan Muslim No. 4).

Di jaman ini, akan sangat mudah terkena sanksi tersebut manakala kita turut share artikel islam yang kita tidak mengetahui sumber/penulisnya.

Jangan-jangan yang menulis ahlul bid’ah atau orang fasik. Kita menyangka yang ditulisnya hadis ternyata bukanlah hadis. Kesimpulan: jauhi dan deleted artikel gak jelas (tanpa sumber). Stop di Anda!

7. Berdo’alah semoga Allah menunjukkan kebaikan dan menjauhkan keburukan dari agama kita.

8. Terakhir, Yuk! mulai peduli dengan agama ini. Peduli dengan kampung akhirat, caranya belajar agama dengan benar. Memilih guru yang mengajarkan tauhid, membela sunnah, memerangi syirik juga memberantas bid’ah. Tekunilah ilmu yang dapat mengantarkan ke Jannah.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Sungguh sebaik-baik penolong adalah Allah. Memperoleh pertolongan-Nya hanyalah bertauhid dengan benar.

Sumber:

  1. almanhaj.or.id/4110-hadits-palsu-tentang-menuntut-ilmu-ke-negeri-china.html

Wallahu’alam bishowab.

DirumahAja Yogyakarta, 6 Ramadhan 1441
Farid ibnu Siswanto

Tentang Kami

Website sebagianmalam.com adalah situs dakwah sunnah yang menyebarkan dakwah Islamiyah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Sahabat ridwanullah ‘alaihim jami’an. Moto sebagianmalam.com adalah “Beriman, Kemudian Istiqamahlah.”

Materi sebagianmalam.com merupakan faedah ilmu dari majelis-majelis ilmiyah as-Salafy al-Atsari di D.I Yogyakarta. Muatan sebagianmalam.com terdiri dari Aqidah, Manhaj, Tafsir, Tarbiyah, Sirah Nabawi, Fatwa dan Faedah, Fiqih serta Muammalah.

Selengkapnya