بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Serial II : Kondisi Bangsa Arab
Sebelumnya bangsa Arab menganut agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihisalam sejak berkembangnya keturunan beliau di Mekah sampai tersebar keseluruh Jazirah Arab. Mereka menyembah Allah ﷻ dan memegang keyakinan tauhid yang lurus serta menjalankan ajaran agama mereka dengan benar.
Berjalan waktu, membuat mereka lalai dan lupa pada ajaran yang dituntunkan. Namun, tetap masih ada sisa-sisa dari syi’ar dan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Berawal dari Umar bin Luhai seorang pemimpin bani Khuza’ah yang dikenal arif dan bijak melihat penduduk Syam menyembah berhala. Lazim oleh masyarakat kala itu, Syam adalah tempat diturunkannya rasul dan kitab sehingga penyembahan berhala dianggap kebaikan. Hubbal adalah nama berhala yang pertama bagi penduduk mekah (Kitabul Ashnam, Ubnu Kalby, hal.28). Karakter berhala selanjutnya yang dibuat adalah Manat yang diletakkan di dekat laut merah. Berhala Latta di thaif dan Uzza di bukit Nakhlah di atas Dzati Irq.
Penduduk Arab melakukan demikian karena meyakini dapat mendekatkan diri pada Allah ﷻ dan memperoleh syafaat dengan itu melalui perantara patung-patung orang shalih yang telah meninggal dunia.
Sisi kesyirikan mereka, menganggap patung-patung orang shalih dapat mendekatkan diri pada Allah ﷻ.
Hal ini telah dikabarkan oleh Allah ﷻ dalam al-Qur’an,
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”(Qur’an surat az-Zumar, ayat 3).
Inilah kesyirikan yang dilakukan oleh bangsa Arab, mereka menyekutukan Allah dalam beribadah. Mengangkat sekutu-sekutu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ﷻ .
Wallahu alam bishawab, wasalallahu ala nabi muhammad wa sallam
Ringkasan Kitab: ar-Rahiqul Makhtum Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfury, hal.


