Kaidah Mendidik Anak

Kaidah Mendidik Anak

Saudaraku,

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan) (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pendidikan anak merupakan ilmu yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang tua dengan harapan anak-anaknya dapat menjadi asset akhirat. Menjadi catatan penting, bahwa anak yang sukses dalam agama lebih menguntungkan orang tua ketimbang suksesnya anak dalam urusan karier namun tidak dapat mendoakan dan berbakti pada orang tua. Islam memberikan pedoman yang tepat dalam mendidik anak. Berikut kaidah mendidik anak muslim.

  • Mempelajari Sirah Nabi Muhammad ﷺ

Sebab pada sirah nabawi terdapa tilmu parenting yang sangat baik. Perhatikan Nabi Muhammad ﷺ adalah yatim. Rasulullah ﷺ ialah putra dari ‘Abdullah bin Abdul Muthallib dengan Aminah binti Wahab dari kabilah Zuhrah. Mereka berdua turut dalam perjalanan dagang ke Syam bersama dengan kafilah dagang Quraisy. Sepulang dari safar ini, ‘Abdullah lantas menderita sakit dan menginap di saudara dari ibunya dari kabilah an-Najjar hingga beberapa lama di Yatsrib (Madinah) hingga wafatnya dan dikebumikan disana. Satu hari, Aminah ingin berziarah ke makam suaminya yang dikebumikan di Yatsrib. Berangkatlah Aminah Bersama putra tercintanya, Muhammad ﷺ disertai dengan pembantu wanitanya Ummu Aiman. Setelah satu bulan tinggal di Yatsrib, Aminah kembali lagi ke Mekah. Namun dalam perjalanannya Aminah menderita sakit parah dan harus singgah di Abwa. Sebuah kota antara Yatsrib dan Mekah, di tanah Abwa inilah ibunda Rasulullah ﷺ meninggal dunia.[1] Saat itu Rasulullah ﷺ masih berumur 6 tahun.[2] Demikianlah Rasulullah ﷺ menjadi yatim sejak dini, itulah Allah menyebut beliau sebagai yatim.

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?” (Qur’an surat adh-Dhuha ayat 6)

Setelah kedua orang tua beliau meninggal dunia, siapa yang mengurusi? Allah ﷻ lantas menjadikan Abdul Muthallib sebagai orang yang merawat rasulullah ﷺ. Abdul Muthallib merawat Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kasih saying sampai-sampai disebutkan dalam riwayat, kursi kehormatan Abdul Muthallib yang tidak boleh diduduki siapapun, dengan bebas diduduki oleh nabi Muhammad ﷺ saat kecil. Setelah kakeknya meninggal dunia saat Nabi ﷺ berumur 8 tahun, Nabi berpindah asuhan ke tangan pamannya Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Lagi-lagi, Beliau ﷺ mendapat pengasuh yang sangat mencintainya. Abu Thalib melaksanakan wasiat Abdul Muthallib, melaksanakan hak anak saudaranya dengan tulus sepenuh hati dan bahkan menganggapnya seperti anak sendiri. Bahkan sebagaimana Abdul Muthallib, Abu Thalib mendahulukan Muhammad ﷺ dari pada putra-putranya. Sejak usia 8 tahun, hingga nanti 40 tahun pada masa kenabian, Rasulullah ﷺ di bawah perlindungan pamannya, Abu Thalib. Pamannya ini rela menjalin kerjasama bahkan permusuhan demi untuk membela Dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ melindungi langsung Rasulullah ﷺ melalui tangan-tangan manusia yang baik pekertinya. Inilah parenting yang diberikan langsung oleh Allah dalam mendidik dan mengasuh Nabi kita Muhammad ﷺ.

  • Memahamai Dunia Anak ialah Bermain

Memberikan porsi yang cukup bagi anak untuk bermain. Orang tua dewasa ini, memiliki standar dalam mendidik anak adalah harus dapat menghafal sekian juz pada umur sekian, hafal hadis pada umur sekian dan seterusnya. Apabila kita mengkaji sirah Nabawi, kita akan dapati porsi bermain yang cukup pada masa kanak-kanak seorang nabi. Perhatikan pada saat Jibril ‘alaihishalatuwassalam membelah dada Rasulullah Muhammad ﷺ.

Dari Anas berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ bermain bersama teman-temannya (masa kecil di bani Sa’ad), Beliau ﷺ didatangi Malaikat Jibril. Jibril memegang Beliau ﷺ kemudian melentangkannya. Kemudian dia membelah dadanya dan mengeluarkan hati Beliau ﷺ, seraya berkata, ‘Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.’ Lalu Jibril mencucinya dalam wadah dari emas dengan menggunakan air Zamzam, dan memasukkannya ketempat semula. Anak-anak yang lain berlarian ke ibu susuannya masing-masing dan mengatakan bahwa Muhammad telah dibunuh. Merekapun mendatangi Beliau ﷺ, dan menemukan Beliau dalam keadaan baik dengan wajah yang semakin berseri-seri. Anas berkata, ‘Sungguh aku pernah melihat bekas pembelahan tersebut di dadanya.’” (Diriwayatkan oleh Muslim pada Kitab Iman, bab Isra I/147.

Ingatlah juga tentang kisah Nabi Yusuf,

أَرۡسِلۡهُ مَعَنَا غَدٗا يَرۡتَعۡ وَيَلۡعَبۡ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.” (Qur’an surat Yusuf ayat 12)

Belajar memang penting, namun jangan hilangkan dunia bermain anak-anak. Permainan bersama teman sebaya akan dapat merangsang banyak keterampilan dan kecerdasan bagi tumbuh kembang anak. Berbeda dengan anak-anak yang sejak dini telah diberikan gawai untuk bermain game di ponselnya.

  • Konsep Mendidik Para Sahabat adalah Iman

Para sahabat ridwanullah ‘alahi ajma’in mengajarkan anak-anak mereka pertama-tama dengan keimanan, bukan hafalan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, “Kami menjalani hidup dalam jenak waktu yang masing-masing dari kami diberi (pengajaran) iman sebelum (pengajaran) al-Quran. (Bilamana) surah al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, kami pun mempelajari perkara halal dan haramnya, juga apa yang seharusnya dipahami daripadanya sebagaimana halnya kalian mempelajari al-Quran saat ini. (Akan tetapi) sungguh pada hari ini aku telah melihat orang-orang yang yang diberikan kepadanya (pengajaran) al-Quran sebelum (pengajaran) iman, lantas dia membaca dari mulai pembukaan hingga penutupnya tanpa mengetahui perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya, juga bagaimana seharusnya dia memahami hal itu. Dia (tak ubahnya) orang yang menaburkan kurma yang buruk (sebab tidak mengambil faedah darinya – red).” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Hakim; dan al-Hakim mensahihkannya.)

Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami telah bersama Nabi ﷺ ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani).

Ibnul Qayyim berkata, “Apabila mereka (anak-anak) telah mencapai masa berbicara, hendaklah mereka dibimbing untuk mengucapkan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, dan jadikan hal pertama yang mengetuk telinga mereka adalah mengenal Allah ﷻ  dan keesaan-Nya, juga bahwa Dia yang Maha Suci berada di atas ‘Arsy-Nya melihat mereka dan mendengar perkataan mereka, dan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada ….” Tuhfah al-Maulud (231).

Tanamkan enam rukun iman pada anak-anak sesuai dengan kapasitas dan pemahamannya secara berangsur-angsur, yakni:

  1. Beriman pada sifat-sifat Allah dalam setiap kejadian
  2. Beriman pada tugas-tugas Malaikat
  3. Cinta pada al-Quran dengan kesadaraan menghafalkannya bukan dengan paksaan. Sebab parameter pendidikan al-Qur’an pada anak bukan terletak pada banyaknya hafalan namun iman.
  4. Beriman pada Nabi dan Rasul serta kisah-kisah heroik para Nabi.
  5. Beriman pada takdir yang Allah ﷻ tetapkan
  6. Beriman pada hari kiamat

Mengapa begitu penting urusan iman bagi anak? Bayangkan, ketika seorang anak mengingatkan orang tuanya shalat padahal ia belum hafal ayat tentang perintah shalat. Seorang anak mengingatkan ibundanya untuk menggunakan jilbab, meski anak belum hafal ayat perintah berhijab. Rasulullah ﷺ selalu memprioritaskan perkara iman dalam setiap dakwahnya. Bahkan 13 tahun berdakwah di Mekah seluruhnya adalah urusan iman baru kemudian 10 tahun di Madinah untuk urusan Syari’at. Iman ialah urusan batin, Ibnu Qudamah menyebutkan, “Ulama Salaf sangat perhatian pada amalan batin.”

  • Menekankan Adab sebelum Ilmu

Pembahasan ini akan ditulis secara khusus, insyaallah.

  • Orang Tua Senantiasa Belajar

Dibutuhkan dua hal untuk mencetak generasi islam, yaitu: Ilmu dan Cara Mengajar Ilmu. Perhatikan hadis berikut, Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan) (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180).

Perintah untuk beribadah dimulai sejak anak berusia 7 tahun, adapun sebelum itu adalah teladan. Orang tua memberi contoh akan keteladanan ketaatan kepada Allah ﷻ. Hadis di atas menunjukkan level pengajaran, dimana usia 7 tahun anak hanya diajak untuk shalat tanpa hukuman. Setelah 10 tahun perintah shalat dan jika membangkan baru dijatuhkan punishment. Namun hukuman yang diberikan tidak sampai menggerakkan lengan namun cukup gerakan pergelangan tangan dalam memukul atau dengan kata lain pukulan yang tidak membekas.

Syaikh Sulaian ar-Ruhaily menyebutkan, anak usia 7 hingga 10 tahun tidak boleh ada hukuman namun hanya perintah. Usia 10 tahun baru dikenakan hukuman. Manakala hal ini benar-benar diterapkan insyaallah anak-anak akan benar-benar mengerjakan shalat.

  • Mendidik anak sejak memilih istri (tambahan penulis).

Hal ini akan dibahas lebih lanjut, insyaallah.


Disusun di Gumuk Pasir Parangtritis, 15 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019 dari Faedah Ilmu kajian Albis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc. 28 Rajab 1440 / 3 April 2019


[1] Ar Rahiqul Makhtum Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfury

[2] Tafsir Juz ‘Amma, Dr. Firanda Andirja, Lc., MA.,

Tentang Kami

Website sebagianmalam.com adalah situs dakwah sunnah yang menyebarkan dakwah Islamiyah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Sahabat ridwanullah ‘alaihim jami’an. Moto sebagianmalam.com adalah “Beriman, Kemudian Istiqamahlah.”

Materi sebagianmalam.com merupakan faedah ilmu dari majelis-majelis ilmiyah as-Salafy al-Atsari di D.I Yogyakarta. Muatan sebagianmalam.com terdiri dari Aqidah, Manhaj, Tafsir, Tarbiyah, Sirah Nabawi, Fatwa dan Faedah, Fiqih serta Muammalah.

Selengkapnya