Lantas bagaimana menumbuh kecintaan pada Al-Qur’an?
Tidak ada cara lain kecuali dengan memaksakan jiwa ini untuk dekat dengan Al-Qur’an, intensif dengan Al-Qur’an. Bagaimana akan tumbuh cinta, berjumpa saja enggan.
Bukankah jiwa-jiwa manusia seperti anak kecil? Mudah merengek, perlu sabar mendidiknya. Namun jika dibiarkan, ia akan terus bermain sampai habis waktu tanpa ada kebaikan yang diperoleh.
Barangkali ada satu ayat yang dapat mengingatkan kita untuk dapat mendidik jiwa yang malas.
Allah ta’ala berfirman,
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-Ankabut, ayat 69)
Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ini dapat dipahami ibadah harus dipaksakan dengan catatan memaksa diri sendiri untuk keluar dari sifat enggan dan malas.1
Orang-orang yang bersungguh-sungguh meraih keridhaan Allah, diantaranya seseorang yang membaca Al-Qur’an, Menghafalnya, mentadaburinya, mengamalkan isi Al-Qur’an kemudian mereka mendakwahkan apa yang mereka telah ketahui dengan benar.
Merekalah yang bersungguh-sungguh akan Allah tunjukkan jalan, Allah akan mudahkan usahanya. Kemudian dalam perjalanan ikhtiar yang sungguh-sungguh itu kita akan bersama pertolongan, taufik dan hidayah dari Allah.
Salah satu “Pemacu” untuk kita dapat akrab dengan Al-Qur’an adalah dengan menyiapkan waktu khusus untuk Al-Qur’an. Barangkali 10-15 menit sehari untuk membaca Al-Qur’an atau mengkaji ayat-ayatnya dari kitab tafsir. Tidak perlu muluk-muluk banyak membaca sekian hingga sekian juz, namun pahami ayat sedikit demi sedikit namun istiqamah. Itulah yang terbaik.
أحب الأعمال إلى الله أدوامها وإن قل
“Amalan yang dicintai Allah, adalah yang sedikit namun istiqamah.”
Berusaha akrab dengan Al-Qur’an, setiap kali membaca Al-Qur’an atau mempelajari tafsirnya, menghafalnya gunakan timer (hitung mundur).
Semisal atur hitung mundur 30 menit untuk muraja’ah menyelesaikan 1 juz, atau 40-45 menit untuk satu juz membaca dengan irama. Muraja’ah 1 halaman, hitung mundur 3 menit. Setiap selesai shalat fardhu, atur 7 menit untuk membaca Al-Qur’an, selagi alarm belum berbunyi dan waktu masih berjalan mundur belum habis, tidak boleh berhenti! Terus membaca! Jangan buka sosial media! Jangan berpindah tempat! Baca! Seberapapun halaman yang kita dapatkan, ketika waktu habis silakan berhenti dan istirahat.2
Ada satu kaidah yang perlu dipahami,
Membaca dengan melihat mushaf (binnadzar) itu lebih lelah dan lebih cepat letih daripada membaca dengan tanpa melihat mushaf (bi dzohril qolb). Disebutkan dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf pahalanya lebih besar. Hal ini sesuai dengan tingkat lelah dan letih. Lebih banyak indera yang dikerahkan, mata melihat lembar demi lembar, tangan memangku mushaf, tenaga lebih banyak dikerahkan.
عَن عُثمَانَ بنِ عَبدِ اللٌهِ بنِ اَوسِ الثٌقَفيِ رَضَيِ اللٌهُ عَنهُ عَن جَدٌهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَي اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ قِراَءةُ الٌرَجُلِ القُرانَ فيِ غَير الُصحَفِ ألفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاَءتُه فيِ الصُحَفِ تَضُعَفُ عَلى ذَالِكَ اِل ألفَي دَرَجَةٍ. (رواه البيهقي في شعب الإيمان)
Bacaan (Al Quran) seseorang dengan tanpa melihat mushaf pahalanya 1000 derajat, dan bacaan (Al Quran) dengan melihat mushaf dilipat gandakan hingga 2000 derajat. (H.R Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Taufik dan hidayah dari Allah, hanya dengan pertolongan-Nya kita mampu menjalankan ketaatan.
Wallahu alam bishawab
Masjid Abdurrahman bin Auf (MABA)
Kasongan 26 Ramadhan 1442 / 8 Mei 2021
Catatan Kaki
[1] Faedah Ustadz Dr. Aris Munandar, M.PI
[2] Metode Murajaah Ustadz Nailul Authar


