بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Aisyah radhiallahu anha menuturkan bahwa Ummu Salamah radhiallahu anha bercerita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang gereja yang ia lihat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang di dalamnya terdapat rupaka-rupaka (gambar-gambar), maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan mereka membuat di dalamnya rupaka-rupaka, dan mereka adalah sejelek-jelek makhluk disisi Allah ta’ala”.
Mereka dihukumi Beliau shallallahu alaihi wasallam sebagai sejelek-jelek makhluk karena mereka melakukan dua fitnah sekaligus; yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka (patung-patung). Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 427 dan Muslim, no. 528 serta ahmad 6/51.
Dari Jundub bin Abdullah radhiallahu anhu, dimana ia pernah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia: “Sungguh, Aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang Khalil (kekasih mulia) dari antara kalian, karena sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya; seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah, dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu”. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 532.
Aisyah radhiallahu anha juga berkata: ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan diambil nyawanya, Beliaupun segera menutup mukanya dengan kain, dan ketika nafasnya terasa sesak maka dibukanya kembali kain itu. Ketika Beliau dalam keadaan demikian itulah beliau bersabda: “Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat peribadatan”. Diriwayatkan oeh Bukhari, no.435 dan Muslim, no. 531.
Kandungan bab ini:
- Larangan membangun tempat beribadah (masjid) di sisi kuburan orang-orang yang shalih, walupun niatnya baik.
- Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sikap keras Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam masalah ini, bagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat, bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang shalih termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah ta’ala; kemudian, lima hari sebelum wafat, beliau mengeluarkan pernyataan yang melarang umatnya menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat ibadah; terakhir, beberapa saat menjelang wafatnya, beliau masih merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan yang telah diambilnya, sehingga beliau melaknat orangorang yang melakukan perbuatan ini.
- Khutbah beliau yang disampaikan lima hari sebelum wafatnya mengandung sanggahan terhadap dua kelompok yang kedua-duanya termasuk sejelek-jelek ahli bid’ah, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa keduanya di luar 72 golongan yang ada dalam umat Islam, yaitu Rafidhah dan Jahmiyah. Dan sebab kemusyrikan dan penyembahan kuburan terjadi adalah orang-orang Rafidhah. Merekalah orang pertama yang membangun tempat ibadah di atas kuburan.
Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah




